Kamis, 21 Januari 2010

Teori Akuntansi

SIFAT DASAR AKUNTANSI

1. Accounting entity (lembaga)

Yang menjadi fokus pencatatan akuntansi adalah entity, unit yang terpisah dari badan/ entity yang lain. Informasi disusun masing-masing terpisah antara satu entity dengan entity yang lain.

2. Going concern (hidup terus)

Artinya perusahaan (entity) yang dilaporkan akan terus beroperasi dimasa-masa yang akan datang, tidak akan bubar. Nilai kekayaan dari suatu perusahaan akan dianggap hidup terus menerus (going concern).

3. Measurement (ukuran)

Akuntansi sebagai alat ukur sumber ekonomi dan kewajiban serta perubahannya. Seperti Mengukur aset, kewajiban, modal, hasil, biaya.

4. Time period ( waktu periode)

Laporan menyajikan informasi untuk suatu waktu, tanggal/periode tertentu. Seperti neraca, laporan laba rugi yang menggambarkan nilai informasi usaha pada periode tertentu.

5. Monetery Unit ( bentuk uang/ moneter)

Semua transaksi perusahaan dilaporkan dalam bentuk nilai uang (Rupiah/ Dollar).

6. Accrual

Penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan tanpa melihat transaksi kas telah dilakukan/ tidak. Tapi pada faktor legalnya yang merupakan hak atau kewajiban perusahaan/ belum.

7. Exchange Price ( harga Pertukaran)

Pada harga pertukaran yang diperoleh dari harga pasar sebagai pertemuan antara pembeli (demand) dan penjual (supply).

8. Approximation ( Penafsiran)

Dalam akuntansi tidak dapat menghindari suatu Penafsiran nilai, harga, umur, kerugian dan sebagainya.

9. Judgment (Pertimbangan)

Laporan keuangan perlu pertimbangan akuntan berdasar keahlian yang dimilikinya. Misal pertimbangan memilih FIFO. LIFO, metode garis lurus dll.

10. General purpose (pemakai umum)

Informasi yang disajikan dalam keuangan ditunjukan buat pemakai secara umum.

11. Interrelated Statment (berkaitan)

Neraca, laba rugi dan laporan mempunyai hubungan yang sangat erat satu sama lainnya.

12. Substance Over Form

kenyataan ekonomis suatu kejadian daripada bukti legalnya.

13. Materiality

Informasi yang dianggap penting dalam setiap pertimbangan yang dilakukan. Pengertian disini adalah jika informasi itu dapat mempengaruhi para pengambilan keputusan.

SIKLUS AKUNTANSI :

1. Transaksi/ Bukti

Seperti dokumen termasuk cek, faktur, kwintansi, kas bon.

2. Buku Harian Jurnal

a) Jurnal Umum (Serba-serbi)

b) Jurnal Khusus

Sebagai jurnal mencatat transaksi sejenis. Seperti mencatat transaksi penjualan kredit saja dibuat jurnal penjualan. Pembelian dibuat jurnal pembelian.

3. Buku Besar (Ledger)

Penampung seluruh transaksi yang telah diklasifikasikan melalui jurnal. Dari jurnal ke buku besar.

4. Neraca Lajur (Worksheet)

Neraca lajur biasanya mempunyai beberapa lajur, ada 8, 10, atau 12 lajur yang masing-masing 2 lajur :

1. Neraca Percobaan

Memasukkan jumlah debet, kredit setiap buku besar. Percobaan karena merupakan tempat pertama untuk mencoba apakah proses pemindahbukuan ini benar/ salah.

2. Neraca Saldo

3. Jurnal Penyesuiaan

4. Laba Rugi

5. Neraca

5. Laporan Keuangan

Laporan arus kas :

1. Kegiatan Operasi

2. Kegiatan Investasi

3. Kegiatan Pendanaan/ Pembiayaan

ELEMEN STRUKTUR TEORI AKUNTANSI

Standar Akuntansi

Prisip Dasar Akuntansi

Konsep teoritis akt

Postulat Akuntansi

Tujuan Laporan Keuangan

STRUKTUR TEORI AKUNTANSI :

1. Tujuan Laporan Keuangan

Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi.

2. Postulat akuntansi :

Pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri

a. Postulat Entity (Perusahaan/ lembaga)

Hasil kegiatan operasi dari suatu entity (perusahaan) yang terpisah dan dibedakan dari pemilik. Unit akuntansi yang terpisah dengan pemiliknya. Yang jadi objek perusahaan/ lembaga bukan gabungan dengan pribadi pemilik.

b. Going Concern (continuity)

Postulat ini menganggap bahwa perusahaan akan terus melaksanakan operasinya sepanjang kegiatan yang sedang berlangsung. Perusahaan tidak dianggap berhenti, ditutup atau dilikuidasi dimasa akan datang. Perusahaan akan hidup dan beroperasi untuk jangka waktu yang tidak terbatas

c. Postulat Unit of Measure (alat Ukur)

Postulat menganggap bahwa setiap transaksi harus diukur dengan suatu alat ukur.

d. Postulat Accounting Period

Walau akuntansi itu memegang postulat Going Concern namun posisi keuangan dan perubahannya harus dilaporkan secara periodik/ tertentu, bisa per bulan, per Semester, per tahun.

3. Konsep Teoritis Akuntansi :

Menyangkut kepemilikan/ kontrol terhadap entity akuntansi yang dilaporkan. Teori yang dipakai sbb:

a) The Proprietory theory (Teori Kepemilikan)

Kekayaan bersih perusahaan merupakan hak si pemilik

b) The Entity Theory (Teori Unit Usaha)

Perusahaan/ unit usaha sesuatu yang terpisah dan berbeda dari peanam modal ke dalam perusahaan dan usaha yang jadi pusat perhatian bukan pemilik.

c) The Fund Theory (Teori Aset)

Bukan pemilik dan bukan pula perusahaan yang jadi pusat perhatian tetapi sekelompok aset yang ada.

d) Enterprise Theory (Teori Kepentingan)

Teori ini yang jadi pusat perhatian adalah seluruh pihak yang terlibat/ yang memiliki kepentingan secara langsung maupun tidak dengan perusahaan.

Misalnya pemilik, manajemen, masyarakat, pemerintah, kreditur, fiskus, dll.

e) Residual Equity Theory (Pemegang Saham)

Teori ini gabungan dari teori kepemilikan dan Teori Unit Usaha. Residual Equity hanya pemegang saham biasa.

f) Commander Theory

Mereka yang memiliki wewenang/ kekuasaan untuk melakukan kontrol

g) The Investor Theory

Aset sama dengan kreditur dan pemengang saham.

4. Prinsip Dasar Akuntansi :

a. Dasar Akrual

Menyusun laporan keuangan pengakuan transaksi didasarkan pada kejadian/ peristiwa bukan pada transaksi kas.

b. Kelangsungan Usaha

Asumsi bahwa usahanya jalan terus, tidak likuidasi.

Ada 9 Prinsip dasar akuntansi (APB Statmen No.4) :

1) The Cost Principle

Dasar peniaian yang tepat untuk mencatat perolehan barang, jasa, biaya, harga pokok. Kelemahan : akibat nilai uang yang tidak stabil.

2) The Revenue Principle

Luas : seluruh hasil dari perusahaan dan kegiatan Investasi.

Sempit :berasal dari kegiatan produksi, tidak masuk Laba Rugi

3) The Matching Principle

Prinsip yang mengatur agar pembebanan biay harus dilakukan pada periode yang sama dengan periode pengakuan hasil.

4) The Objektivity Principle

Untuk membenarkan pilihan atas suatu ukuran serta Untuk meningkatkan keyakinan/ kepercayaan pada laporan.

5) The Consistency Principle

Agar laporan keuangan itu dapat diperbandingkan.

6) The Disclosure Principle

Laporan Keuangan harus disajikan secara Full (Penuh), Fair(wajar), dan cukup.

7) The Conservatism Principle

Prinsip pengecualian/ pengubah. Pengubah karena membuat pembatasan pada penyajian data akuntansi yang relevan terpercaya.

8) The Materiality Principle

Laporan yang menyangkut informasi yang dianggap cukup penting (material) dalam mempengaruhi keputusan.

9) The Uniformity dan Comparability Principle

Menggunakan prosedur yang sama untuk perusahaan yang berbeda. Agar laporan keuangan tersebut dapat diperbandingkan.

Rabu, 20 Januari 2010

Akuntansi dan Laporan Keuangan

Akuntansi dan Laporan Keuangan

Penyusunan dan Penyajian Laporan keuangan mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan yang ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan-IAI. Saat ini, secara garis besar Standar Akuntansi Keuangan berisi 59 PSAK beserta Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan yang melandasinya dan 4 IPSAK. Standar Akuntansi Keuangan yang ditetapkan oleh IAI merupakan hasil adaptasi dari International Accounting Standards.

  • Pengadopsian Standar Akuntansi Internasional ke dalam Standar Akuntansi Keuangan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntan Indonesia sebagai salah upaya harmonisasi dan dinamisasi praktik akuntansi keuangan internasional dalam usaha menjawab tantangan di era globalisasi.

  • Akuntansi sering disebut dengan “bahasa bisnis” karena akuntansi adalah sebuah sistem informasi yang menyediakan laporan-laporan bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi sebuah perusahaan. Akuntansi dapat didefinisikan sebagai proses pencatatan, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi agar dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan atau kebijaksanaan. Informasi tersebut disajikan dalam bentuk laporan akuntansi atau lebih dikenal dengan istilah laporan keuangan.

  • Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

  • Terdapat empat jenis laporan keuangan utama, yakni neraca (laporan perubahan posisi keuangan), laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Pelaporan keuangan (financial reporting) mencakup tidak hanya laporan keuangan, tetapi juga media-media lain yang dapat digunakan untuk mengomunikasikan informasi baik yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan proses akuntansi. Misalnya, laporan tahunan kepada para pemegang saham tidak hanya berisi laporan keuangan utama, seperti tercantum di atas, tetapi juga informasi lain, seperti rasio-rasio keuangan yang dianggap penting, ikhtisar jumlah atau saldo rekening-rekening tertentu.

  • Pihak-pihak yang terkait dengan laporan keuangan adalah IAI, Bapepam, BEJ, Kantor Pajak dan Kantor Akuntan Publik (Auditor) serta para pemakai laporan keuangan lainnya. Dengan cara yang berbeda masing-masing pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas (dapat dipercaya dan diandalkan, relevan, serta tepat waktu).


Kerangka Konseptual Akuntansi dan Profesi Akuntan

  1. Di dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan perusahaannya, manajemen memiliki keleluasaan untuk memilih alternatif prinsip atau metode akuntansi yang dimaksudkan untuk mencerminkan secara akurat kondisi ekonomi perusahaan dalam kaitannya dengan bisnis dan transaksi-transaksi operasinya. Untuk itu, diperlukan suatu acuan dalam praktik akuntansi di dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangannya. Kerangka dasar akuntansi dan pelaporan keuangan ditetapkan sebagai maksud untuk mendefinisikan secara luas tentang tujuan, istilah dan konsep-konsep yang berkaitan dengan praktik akuntansi yang pada akhirnya sangat diperlukan untuk menetapkan ruang lingkup dan batas-batas akuntansi dan laporan keuangan.

  2. Kerangka tersebut memuat hal-hal berikut. (1) Tujuan laporan keuangan. (2) Asumsi dasar. (3) Karakteristik kualitatif laporan keuangan. (4) Unsur laporan keuangan. (5) Pengakuan dan pengukuran unsur laporan keuangan. (6) Konsep modal dan pemeliharaan modal.

  3. Asumsi dasar dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan adalah dasar akrual dan kelangsungan usaha. Terdapat empat karakteristik laporan keuangan, yakni dapat dipahami, relevan, keandalan dan dapat dibandingkan. Unsur-unsur laporan keuangan antara lain adalah aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, laba, rugi, setoran kepada pemilik, distribusi kepada pemilik.

  4. Secara umum sekurang-kurangnya terdapat tiga pihak yang berkarier dalam bidang akuntansi, yang terkait dengan akuntansi dan pelaporan keuangan, yaitu akuntan manajemen (akuntan perusahaan), akuntan publik dan para pemakai laporan.


Laporan Laba Rugi dan Laporan Perubahan Ekuitas

  1. Laporan keuangan suatu perusahaan terdiri atas berikut ini.

    1. Laporan Laba Rugi.

    2. Laporan Perubahan Ekuitas.

    3. Laporan Neraca.

    4. Laporan Arus Kas.

  1. Laporan keuangan merupakan hasil pencatatan, pengelompokan, pengikhtisaran catatan data, penerapan prinsip-prinsip dan kebiasaan akuntansi, dan penggunaan data pengalaman pribadi penyusunnya. Oleh sebab itu, tak mengherankan apabila laporan keuangan mengandung keterbatasan-keterbatasan sebagai berikut.

    1. Bersifat Historis.

    2. Bersifat Umum.

    3. Pemakaian taksiran dan pertimbangan pribadi.

    4. Berisi informasi yang material saja.

    5. Bersifat konservatif.

    6. Menekankan pada makna ekonomis, tidak pada bentuk hukumnya.

    7. Menggunakan istilah teknis akuntansi.

    8. Mengandung berbagai alternatif metode akuntansi.

    9. Tidak dapat menyajikan informasi kualitatif yang bersifat nonkeuangan.

  1. Penyajian laporan laba rugi dapat dilakukan dalam 2 bentuk sebagai berikut.

    1. Bentuk multiple step (langkah bertahap).

    2. Bentuk single step (langkah tunggal).

  2. Dalam bentuk Langkah Bertahap laporan laba rugi berisi informasi sebagai berikut.

    1. Penjualan.

    2. Harga Pokok Penjualan atau Beban Penyediaan Jasa.

    3. Laba Kotor.

    4. Beban Usaha.

    5. Laba Usaha.

    6. Pendapatan dan Beban Lain-lain.

    7. Laba Sebelum Pos Luar Biasa.

    8. Pos-pos Luar Biasa.

    9. Pengaruh Kumulatif dari Perubahan Prinsip Akuntansi.

    10. Laba Sebelum Pajak Penghasilan.

    11. Pajak Penghasilan.

    12. Laba Bersih.

  3. Dalam laporan laba rugi bentuk langkah tunggal hanya dikenal satu jenis laba saja, yaitu laba bersih.

  4. Untuk menggambarkan perubahan hak milik perusahaan yang tertanam dalam perusahaan, perlu disusun Laporan Perubahan Ekuitas. Laporan ini dapat digabungkan dengan Laporan Laba Rugi, apabila informasi perubahan jumlahnya tidak banyak. Dalam perseroan laporan ini sering disebut Laporan Perubahan Laba Ditahan karena umumnya perubahan modal terjadi pada pos Laba Ditahan saja. Namun, apabila perubahan juga terjadi pada pos-pos modal pemilik yang lain maka perlu disusun laporan perubahan ekuitas secara lengkap.

Pos-pos Luar Biasa

  1. Para akuntan (termasuk IAI) sekarang cenderung untuk menggunakan konsep all-inclusive dalam penyusunan perhitungan laba rugi untuk suatu perusahaan.

  2. Satu-satunya pos juga dibebankan atau dikredit langsung ke rekening Laba Ditahan adalah penyesuaian periode sebelumnya yang diakibatkan karena koreksi kesalahan, dan perubahan akuntansi tertentu yang memerlukan penyusunan kembali laporan keuangan periode sebelumnya.

  3. Seluruh laba atau rugi luar biasa dan yang jarang terjadi langsung ditutup ke rekening Ikhtisar Laba rugi dan dilaporkan dalam perhitungan laba rugi.

  4. Transaksi yang tidak biasa, material, dan jarang terjadi disajikan secara terpisah sebagai kelompok pos-pos luar biasa. Pos-pos lain yang jumlahnya material, tetapi tidak dapat dikelompokkan sebagai pos luar biasa dilaporkan dan diungkapkan secara terpisah.

  5. Penyesuaian kumulatif yang terjadi akibat perubahan prinsip akuntansi diungkapkan secara terpisah sebelum laba bersih.

  6. Penghentian segmen kegiatan dari suatu perusahaan diklasifikasikan secara terpisah dalam perhitungan laba rugi sesudah laba dari kegiatan yang terus berjalan dan sebelum pos-pos luar biasa.

Neraca

  1. Neraca adalah laporan yang menunjukkan posissi keuangan dari suatu perusahaan pada saat tertentu. Posisi keuangan ini meliputi keadaan aktiva, kewajiban dan ekuitas dari suatu perusahaan. Dengan cara menghubungkan pos-pos tertentu dlam neraca, kita dapat menilai keadaan likuiditas, solvabilitas dan fleksibilitas keuangan perusahaan. Oleh karena itu, neraca harus disusun secara sistematis dengan menggunakan klasifikasi yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

  2. Klasifikasi dan penyajian pos-pos dalam neraca dilakukan sebagai berikut.

    1. Aktiva Lancar. Disajikan sesuai dengan urutan likuiditasnya, artinya pos yang segera dapat dicairkan menjadi uang tunai disajikan di urutan paling atas.

    2. Investasi. Investasi perusahaan pada perusahaan anak atau pada perusahaan afiliasi harus disajikan secara terpisah.

    3. Aktiva tetap. Dapat dibedakan menjadi aktiva tetap berwujud dan aktiva tidak berwujud. Pos-pos aktiva tetap disajikan dalam neraca menurut kekekalannya. Aktiva tetap yang umurnya paling panjang disajikan paling atas, sedangkan aktiva tetap yang umurnya lebih pendek disajikan di bawahnya.

    4. Aktiva lain-lain. Klasifikasi aktiva lain-lain digunakan untuk menampung pos-pos aktiva tidak lancar yang tidak dapat dikelompokkan dalam klasifikasi di atas.

    5. Kewajiban lancar. Pos-pos kewajiban lancar disajikan sesuai dengan urutan likuditasnya. Utang lancar yang segera dibayar disajikan dalam urutan teratas.

    6. Kewajiban jangka panjang. Penyajian kewajiban jangka panjang harus mengungkapkan ikatan-ikatan yang ada dalam kontrak utang jangka panjang yang bersangkutan, seperti tingkat bunga, tanggal jatuh tempo, aktiva yang dijadikan jaminan dan sebagainya.

    7. Ekuitas pemilik. Ekuitas merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan, yaitu hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas disajikan dalam neraca berdasarkan kekekalannya. Jenis modal yang sifatnya paling kekal disajikan paling atas, dan yang kurang kekal disajikan di bawahnya.

  3. Neraca dapat disusun dengan menggunakan bentuk akun (rekening) atau bentuk laporan. Dalam bentuk rekening (bentuk skontro) aktiva dilaporkan pada sisi sebelah kiri dan kewajiban serta modal pemilik pada sebelah kanan. Dalam bentuk laporan, bagian aktiva, kewajiban dan modal pemilik disusun secara vertikal (dari atas ke bawah). Bentuk laporan ini lebih populer karena dapat membandingkan 2 buah neraca atau lebih untuk tahun-tahun yang berurutan.

Catatan Atas Laporan Keuangan

  1. Selain pos-pos yang terdapat dalam buku besar perusahaan, dalam neraca juga perlu disajikan informasi tambahan yang dapat berupa peristiwa bersyarat, kebijaksanaan penilaian dan kebijaksanaan akuntansi yang digunakan, kontrak-kontrak jangka panjang dan peristiwa kemudian.

  2. Teknik penyajian informasi tambahan dapat dilakukan dalam bentuk tanda kurung, catatan kaki, skedul pendukung, referensi silang dan rekening kontra.


Ruang Lingkup Laporan Arus Kas

  1. Laporan arus kas adalah laporan keuangan yang menyajikan informasi tentang penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan dalam suatu periode akuntansi.

  2. Tujuan laporan arus kas adalah menyediakan informasi sumber dan penggunaan kas dan setara kas selama periode akuntansi serta rekonsiliasi kas di awal periode dengan kas di akhir periode ditambah saldo setara kas.

  3. Bentuk umum dari laporan arus kas menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas yang terbagi ke dalam tiga kategori, yakni: arus kas yang berasal dari aktivitas operasi; arus kas yang berasal aktivitas investasi dan arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan.

  4. Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan (principal revenue producing activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Arus kas yang berasal dari aktivitas operasi dapat dilaporkan dengan menggunakan di antara dua metode baik langsung maupun tidak langsung.

  5. Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.

  6. Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan.

  7. Arus kas dari aktivitas operasi berasal dari aktivitas produksi normal perusahaan dan penjualan barang dan jasa.

  8. Arus kas dari aktivitas investasi berasal dari aktivitas pembelian atau penjualan aktiva tetap, bangunan, peralatan, piutang wesel dan investasi.

  9. Arus kas dari aktivitas pendanaan berasal dari kenaikan atau penurunan pendanaan utang dan pendanaan ekuitas dan dari pembayaran dividen kepada pemegang saham.

Penggunaan Laporan Arus Kas

  1. Laporan arus kas merupakan laporan yang relatif masih baru, efektif berlaku di Indonesia sejak tahun 1994. Laporan arus kas dapat disusun dengan menggunakan metode langsung atau metode tidak langsung. PSAK No.2 mengimbau agar laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung.

  2. Klasifikasi arus kas bervariasi di antara berbagai negara. Tetapi pada umumnya terdapat 3 kategori arus kas, yaitu (1) arus kas dari aktivitas operasional, (2) arus kas dari aktivitas investasi, dan (3) arus kas dari aktivitas pendanaan (financing). Standar akuntansi Inggris membuat klasifikasi arus kas yang paling lengkap. Di Inggris arus kas dikelompokkan menjadi delapan kategori.

  3. Ada delapan pola arus kas. Arus kas operasional yang positif menunjukkan kondisi keuangan lebih baik dari pada arus kas operasional yang negatif. Arus kas investasi yang negatif menunjukkan perusahaan sedang melakukan perluasan usaha, sedangkan apabila arus kas investasi negatif menggambarkan perusahaan berusaha mencari dana untuk menutup defisit arus kas operasional. Arus kas pendanaan yang positif menunjukkan perusahaan mencari sumber pendanaan dari luar untuk menutup defisit arus operasional atau untuk melakukan ekspansi. Sedangkan arus kas pendanaan yang negatif menunjukkan perusahaan sedang melunasi pinjaman kepada para kreditor atau mengembalikan modalnya kepada para pemegang saham.

Sumber buku Akuntansi Keuangan Menengah karya Sugiarto

DIarsipkan di bawah: Fak. Ekonomi